Pelangi di Langit Borneo

 Nama     : Raudhatul Jannah 

NIM        : 12001187

Kelas       : 4E PAI 

Makul    : Media Pembelajaran 

Dosen Pengampu : Drs. Fahrul Razi, M.Pd.  dan  Firmansyah, S.Pd. I, M.Pd


 

Pelangi di Langit Borneo 

Dia bernama Riski Nurfita Sari (Unofficially), S.ked. yang biasa di sapa Fita ini,  mempunyai gelar yang belum resmi dibelakang namanya. Karena Fita harus menyelesaikan skripsi lebih dulu sebelum waktu wisuda seharusnya. Ia menyelesaikan skripsinya di semester enam, yang termasuk sepuluh tercepat diangkatannya.

Fita adalah mahasiswi kedokteran penerima beasiswa bidikmisi di Perguruan Tinggi Negeri yang berada di Borneo. Untuk urusan ekonomi, Fita tidak seperti teman-teman yang lain, tetapi untuk urusan akademik, ia mampu bersaing dengan yang lainnya.

 Runtuhnya usaha sederhana yang dimiliki orang tua Fita, menghantarkan ia dan keluarganya pada perjuangan hidup yang luar biasa. Keuangan benar-benar jatuh pada tingkat paling bawah dalam roda keluarganya. Saat itu orang tuanya bekerja keras berusaha mencari nafkah dengan berbagai cara. Mulai dari menjadi buruh kupas udang, menjajakan kue ke warung, hingga berjualan sosis goreng di SD yang tak jauh dari rumahnya. Hasilnya tidak terlalu menjanjikan tetapi bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Setelah beberapa lama, akhirnya orang tuanya memberanikan diri untuk meminjam uang sebagai modal membuka warung makan di ruko yang luasnya 4x6 meter yang tak jauh dari gudang semen. Semua berjalan dengan lancar, kondisi ekonomi pun mulai membaik, warung makan tersebut mulai banyak pelanggan, terutama buruh-buruh gudang semen didekat warung tersebut.

Jangan Larut Dalam Badai

Sepertinya hujan dikehidupan keluarganya mulai reda dan mulai tampak pelangi yang menyinari. Semua berjalan lancar lancar meskipun kadang naik turun, namun cenderung stabil. Hasil dari warung makan ini ditabung oleh kedua orang tua Fita, hingga bisa melunasi hutang, memperbaiki rumah, dan membeli perabotan yang diperlukan.

Namun seperti pelangi pada umumnya, ia datang hanya untuk membuat semua keadaan membaik, menyenangkan, dan menjadikan damai untuk siapapun yang melihatnya. Hanya saja, pelangi tidak muncul setiap saat dan tidak begitu bertahan lama. Pelangi yang sudah bersinar pemberi warna ini, perlahan mulai samar bahkan redup.

Dua sampai tiga tahun berikutnya cobaan mulai menyapa kembali, ujian ini merupakan ujian untuk naik tingkat keluarganya. Gudang semen didekat warungnya mulai dialih fungsikan, sehingga buruh-buruh yang menjadi langganan di warung pindah ke tempat lain.

Harga kontrakan semakin hari semakin naik, puncaknya ketika pembangunan Rumah Sakit di daerah tersebut yang membuat harga kontrakan semakin naik bahkan hingga dua kali lipat. Kondisi pembeli yang semakin hari semakin sepi dan harga kontrakan yang semakin hari semakin tinggi ini membuat usaha kedua orang tua Fita kembali runtuh. 

Sejak saat itu, kedua orang tua Fita menjadi petani kopra (daging buah kelapa tua yang dikeringkan) dari kebun kelapa milik kakek. Kebun tersebut cukup luas. Hasil kebun yang dimanfaatkan hanya sisa-sisa kelapa hasil panen yang diambil, dikupas, dijemur hingga kering, lalu dijual. Hasilnya cukup untuk menghidupi keluarganya.

            Hari-hari berjalan seperti biasanya, hingga pada akhirnya badai hujan kembali datang. Harga kopra perlahan mulai turun dari 10 ribuan menjadi 2-3 ribu perkilo. lagi dan lagi keluarga Fita diuji. Dengan berfikir keras dan matang, orang tuanya mencoba membuka usaha lagi dengan berjualan santan kelapa di lapak pinggir pasar yang terletak tak jauh dari rumahnya. Usaha ini cukup membuahkan hasil yang lumayan dan digeluti hingga kini.

            Menjadi dokter adalah cita-cita Fita sedari kecil. Belajar dengan giat dan rajin dilakukannya untuk menggapai impian tersebut. Seiring berjalannya waktu, saat Fita sudah beranjak remaja, ia semakin banyak mencari tahu mengenai kuliah di kedokteran dan semakin ia sadar bahwa menggapai mimpi dan cita-citanya ini cukuplah sulit.

Rasa menyerah itu mulai muncul saat Fita tahu biaya kuliah kedokteran sangatlah mahal. Hal itu membuatnya selalu malu saat menjawab persoalan mimpi dan cita-cita, sebab kondisi keuangan keluarganya yang membuat ia sadar diri. Untuk membayar iuran Qurban saat Idul Adha di Sekolah saja tak mampu, apalagi untuk masuk sekolah kedokteran.

 

Badai tak mungkin selalu diselami, badai mungkin bisa saja berlangsung lama namun tak ada badai yang berlangsung setiap hari. Semakin besar badai menerpa dan bisa dilewatkan, semakin besar pula keindahan pelangi hari baik itu akan hadir.

Kondisi ekonomi keluarga yang sulit memberi banyak hikmah pada keluarganya, terutama pada Fita sendiri. Ia menjadi pribadi yang lebih dekat pada Tuhan, kerena tak ada lagi tempat berharap selain kepada-Nya. Walaupun terbilang telat, namun lebih baik telat daripada tidak sama sekali.

Ia mulai tekun melaksanakan shalat lima waktu saat duduk di bangku SMP, selalu berdoa pada-Nya memohon kemudahan dalam hidup, dan mulai menjalankan sunnahnya, seperti shalat dhuha yang sering ia dengar bahwa shalat dhuha akan memperlancar rezeki.

Benar saja, ada bentuk rezeki yang bukan materi datang kepadanya. Saat itu ia duduk di kelas IX, ia mendapatkan kabar dari temannya bahwa kakaknya diterima di jurusan kedokteran jalur SNMPTN dan lulus beasiswa bidikmisi. Kabar itu menjadi angin segar bagi Fita yang memberi tahunya bahwa ada jalan untuk menggapai mimpi dan cita-cita itu.

Berita baik ini pun disampaikannya pada orang tua, mereka senang mendengarnya dan memberikan semangat untuk terus giat belajar agar dapat meraih mimpi dan cita-cita. Sejak itulah ia mulai mencari tahu mengenai SNMPTN, SBMPTN, dan jalur masuk Perguruan Tinggi lainnya serta terpenting ia selalu mencari informasi mengenai beasiswa bidikmisi. 

Jalan Indah yang Tuhan Berikan

Saat pendaftaran SMA, entah angin apa yang membawa Fita untuk ikut pada pilihan SMA yang disarankan temannya, yaitu SMA yang sama dengan kakak kelas yang diterima di kedokteran dengan beasiswa bidikmisi. Padahal ia mempunyai nilai yang cukup tinggi, termasuk sepuluh besar di SMPnya yang sebenarnya bisa saja untuk mendaftar di SMA favorit di kota yang berada di Borneo ini.

Seperti jalan yang dipilihkan oleh Tuhan, begitu banyak hal baik yang didapatkan Fita di SMA itu, ia memperoleh begitu banyak prestasi, mulai dari selalu masuk ranking 3 besar tiap semesternya, perwakilan sekolah untuk lomba akademik, hingga bisa jalan-jalan gratis dan naik pesawat ke luar kota mewakili sekolah dalam lomba tingkat Nasional.

Sepertinya saat ini Fita sudah menemukan pelangi yang hampir sepenuhnya bersinar. Puncak pada masa SMA ini ketika kelas XII saat pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri jalur SNMPTN dibuka, ia didukung penuh oleh pihak sekolah untuk mendaftar di jurusan kedokteran. Meskipun disatu sisi, ekonomi keluarga yang sedang jatuh, kedua orang tuanya harus bekerja keras menafkahi keluarga dan tidak punya sedikit pun tabungan untuk biaya kuliahnya. Tetapi mereka selalu memberi dukungan penuh dan optimis, bahkan lebih optimis dari Fita sendiri. Hal itu lah yang membuat Fita lebih sedikit percaya diri dari sebelumnya.

Hanya beasiswa bidikmisi yang jadi harapannya untuk lanjut kuliah. Akhirnya Fita daftar jalur SNMPTN tersebut. Saat pengumuman tiba, sebelum ia membuka situs SNMPTN ia berjanji pada diri untuk mengikhlaskan apapun hasil yang akan ia peroleh. Dengan perasaan gugup, ia pun membuka pengumuman tersebut dan ternyata tertulis “Selamat, Anda dinyatakan lulus SNMPTN 2017 pada Universitas Tanjungpura Program Studi Pendidikan Dokter”.  Ia sangat senang dan terharu, ia segera menyampaikan berita gembira ini kepada orang tua dan saudaranya. Semua bangga dan terharu kepadanya. Mungkin saat ini ia hanya bisa mengucapkan beribu-ribu ucapan terima kasih kepada Tuhan atas rasa syukur yang selalu tercurah kepada-Nya dengan jalan indah yang dipilihkan untuk Fita.

Pelangi yang ditunggu setelah hujan sudah terlihat, yang sebelumnya hanya hilang sekejap saja namun kembali memancarkan cahaya begitu terang dan mewarnai hidupnya serta memberi kebahagiaan bagi orang sekitarnya yang ikut merasakan.

            Sekitar 3 bulan rentang waktu yang Fita miliki sebelum ia masuk kuliah. hal ini membuatnya berinisiatif mencari kerja untuk membeli baju dan keperluan barang lain untuk persiapan kuliah. kebetulan saat ini di supermarket sedang mencari karyawan pengganti karena salah satu karyawannya cuti. Lewat kenalan dari kakaknya, ia masuk kerja disana, dibagian baju dan kosmetik. Tugasnya menyapu dan mengepel lantai, mengemaskan baju-baju, dan melayani pembeli.

            Ia bekerja dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Jika kebagian shift kerja sore, maka ia masuk jam 3 sore dan pulang jam 9 malam dengan gaji 30 ribu rupiah perhari. Sekitar satu bulan ia bekerja, karyawan yang cuti sudah masuk kembali. Fita diminta untuk tetap bekerja disitu karena momentum bulan Ramadhan dan tingkat penjualan meningkat, ia pikir pekerjaannya telah usai, ternyata tidak.

            Selama bulan Ramadhan banyak barang-barang baru yang datang, ia dan karyawan lainnya harus bekerja lebih banyak lagi, mereka beberapa kali ikut mengangkut barang satu bal besar dari lantai satu ke lantai dua dalam kondisi sedang berpuasa.

Apa yang ia rasaka saat ini adalah sebuah pelajaran yang membuatnya paham akan sulitnya mencari uang, belajar sabar ketika lantai yang baru dibersihkan diinjak lagi oleh pelanggan atau baju di rak yang baru dikemas, diacak-acak lagi saat pelanggan memilih baju yang ingin dibeli, belajar untuk tidak malu dan gengsi ketika melayani pembeli yang ternyata adalah temannya sendiri,  dan yang terpenting ia bisa belajar menghargai setiap pekerjaan karena ia sudah pernah merasakan bekerja pada pekerjaan yang dianggap sebelah mata oleh orang-orang.

Bertahan Untuk Tetap Menjadi Pelangi

Saat yang ditunggu pun tiba, Fita  menjalankan hari-hari sebagai mahasiswi kedokteran dimulai. Ia berada diantara anak dengan status ekonomi berkecukupan yang tak membuatnya minder, meskipun perbedaan itu sangat tampak, mulai dari cara berpakaian, gawai yang dipakai, hingga kendaraan yang terparkir di parkiran.

Tidak bisa dipungkiri bahwa rasa iri itu ada, iri ketika mereka bisa membeli buku kedokteran dengan harga selangit, ketika mereka memiliki gawai canggih yang dapat menunjang pembelajaran, ketika mereka dapat membeli stetoskop merek terbaik, dan hal-hal lain yang tak bisa ia miliki karena keterbatasan biaya.

Meskipun demikian, tak membuatnya patah semangat dalam mewujudkan impian yang sudah ia dapatkan jalannya. Ia tak menyerah begitu saja, ia mencoba memecahkan masalah ini dengan apa yang ia punya. Buku kedokteran yang tak sanggup ia beli, ia pinjam di perpustakaan ataupun ia membaca buku kedokteran elektronik yang sangat mudah didapatkan. Alat-alat kedokteran yang mahal memang tak sanggup ia beli, tetapi ia tetap bisa belajar dengan alat-alat standar yang masih dapat dijangkau.

Hari-hari berjalan seperti biasanya, Fita mulai terbiasa dengan semua hal yang ia rasakan. Waktu tidak terasa sudah tahun ketiga ia menjadi mahasiswi kedokteran. Hingga saat ini ia sudah membuktikan bahwa kelas sosial ataupun status ekonomi tidak mempengaruhi prestasi.

Fita selalu lulus disetiap blok yang diikuti bahkan nilai yang diperoleh cukup tinggi, dan ia juga sudah lebih dulu menyelesaikan skripsinya. Tinggal satu tahun lagi perjuangannya di preklinik dan dua tahun melewati tahap klinik hingga setelahnya gelar dokter didepan namanya benar-benar bisa ia raih.

Saat ini sedang pandemi COVID-19 yang membuatnya semakin termotivasi untuk terus semangat agar nanti pada saatnya ia juga bisa berjuang menjadi garda terdepan menjaga kesehatan negeri. Sama seperti tenaga medis yang saat ini sedang berjuang, mengorbankan banyak hal yang mereka punya, bahkan hingga beberapa dari mereka gugur dalam perjuangan melawan pandemi ini.

Perjuangan mereka telah membuktikan bahwa mereka dengan sepenuh hati menjaga kesehatan negeri ini. Hanya ucapan terima kasih yang bisa disampaikan penduduk negeri ini yang bisa dibilang, ucapan saja tidak cukup untuk membalas ketulusan mereka yang berjuang di garda terdepan.

Bagi Fita, memiliki mimpi dan cita-cita adalah sebuah keseharusan. Jangan pernah berhenti berjuang sesulit apapun rintangan di depan. Akan ada proses panjang yang harus dilewatkan dan dihadapi dalam menggapainya. Maka jangan lupa untuk untuk selalu meminta bantuan oleh Tuhan, sebab mengatur seisi dunia saja mudah bagi-Nya, apalagi hanya sekedar mewujudkan mimpi dan cita-cita yang sudah digantungkan setinggi langit.

Dari sini kita bisa belajar bahwa sesulit apapun masalah yang akan menghampiri, akan ada hari baik yang akan datang sebagai pelangi yang mewarnai hari-hari. Positive thinking kepada-Nya bahwa pilihan-Nya selalu menjadi yang terbaik untuk kita.

Perjalanan hidup manusia memang seperti tak terencanakan, manusia hanya bisa merencanakan tapi Tuhan sebagai penentu rencana baik dan tidaknya. Perjalanan yang terkadang tidak selalu sesuai harapan, tetapi bisa di usahakan sebaik mungkin untuk mencapai apa yang diinginkan. Terkadang harus melewati jalan yang diguyur badai terlebih dahulu setelah beberapa waktu menikmati jalan yang indah. Hari-hari pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan inilah perjalanan hidup. 

Komentar