Pengalaman Kuliah dan Harapan untuk ke depannya (semester 4)

 

Nama  : Raudhatul Jannah

NIM    : 12001187

Kelas   : 4E PAI

 

Pengalaman Kuliah dan Harapan untuk Kedepannya

 

            Assalamualaikum Wr.Wb.

Halo namaku Raudhatul Jannah atau biasa disapa Ana. Aku kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. Pengalaman aku pada 3 semester ini cukup singkat karena di masa pandemi covid-19 yang mengharuskan aku dan mahasiswa lainnya hanya kuliah online. Hingga saat ini, pemerintah masih terus menghimbau masyarakat untuk melakukan social distancing dan juga himbauan untuk di rumah saja serta menerapkan protokol kesehatan yang baik saat beraktivitas di dalam ataupun diluar rumah. Hal tersebut tentu saja  membuat beberapa kegiatan harus dilakukan dari rumah salah satunya yaitu kegiatan perkuliahan.

Awalnya aku merasa senang karena tidak siap untuk menghadapi dunia perguruan tinggi, jadi aku senang melakukannya secara online namun aku juga merasa sedih karena melihat kesenangan kakak tingkat di sosial media saat melaksanakan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) ditahun tahun sebelumnya.

Pada semester ganjil ini aku masih sama di kelas yang sama, yaitu kelas E. Seperti biasanya, aku mengira bahwa semester 3 ini akan dilaksanakan kuliah tatap muka, tetapi ternyata masih sama seperti semester sebelumnya yang mengharuskan kami untuk kuliah secara daring atau di rumah saja. Sedikit merasakan gugup karena mata kuliah pada semester ini lumayan berat, melihat nama mata kuliah saja sudah membuat aku berfikir bahwa semester ini cukup berat.

Di semester 3 ini sangat banyak tugas yang mengharuskan kami membentuk kelompok, hampir semua mata kuliah menggunakan kelompok untuk membuat makalah yang kemudian akan di presentasikan. Kami melewati berbagai macam tugas dengan berbagai tantangan juga. Mulai dari materi yang sulit didapatkan, kuota yang pas-pasan, kelompok kurang kompak, teman yang sulit dihubungi, presentasi kurang maksimal, grogi saat harus on cam di google meet, kondisi jaringan internet bermasalah.

Kondisi jaringan internet yang berbeda beda di setiap daerah sangat mempengaruhi berlangsungnya perkuliahan. Untuk mahasiswa yang tinggal di daerah perkotaan tentu tidak akan terlalu bermasalah dengan jaringan internet, namun untuk mahasiswa yang tinggal di daerah pedesaan terkadang cukup kesulitan untuk menemukan jaringan yang bagus sehingga membuat kuliah online terganggu.

Masalah lain juga dialami, yaitu Akibat sulit dan kurang mengertinya pengoperasian media yang digunakan, banyak dosen yang mengganti kuliahnya dengan memberikan mahasiswanya banyak tugas. Akibatnya jumlah tugas kuliah menumpuk, sehingga kurang maksimal dalam pengerjaannya, belum lagi tugas yang deadline nya cukup singkat.

Setelah beberapa kali pertemuan sudah berlalu, ada mata kuliah yang dosennya meminta agar kami semua tatap muka, yaitu mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam.  waktu dan tempat pun kami diskusikan agar yang dari kampung bisa segera menyesuaikan jadwal. Setelah selesai berdiskusi, qadarullah dosen pengampu mata kuliah ini sakit sehingga jadwal yang tadinya sudah disepakati harus dibatalkan.

Perkuliahan ini pun cukup rumit karena sudah banyak materi yang harus kami pahami lebih dalam lagi, karena kuliah jarak jauh ini lah yang membuat pemahaman kami terbatas yang hanya mengandalkan makalah teman yang belum tentu jelas isinya, karena kurangnya feedback dari dosen, jadi kami tidak tahu letak kesalahan makalah-makalah yang kami buat. Hal ini seakan cuma formalitas semata bagi sebagian dosen, memberikan tugas, dikumpulkan, setelah itu diberikan tugas lagi tanpa adanya penjelasan mengenai tugas tersebut. Mahasiswa pun dianggap seakan-akan sudah mengerti dan menguasai semua materinya.

Pada saat akhir tahun, perkuliahan ini semakin rumit bagi saya karena terjadinya bencana banjir yang mengharuskan saya kuliah di rumah dengan kondisi air dimana mana. Belum lagi saat salah satu dosen yang mewajibkan harus on cam saat meet sedang berlangsung di kondisi rumah yang sangat berantakan karena banjir tadi. Bahkan untuk duduk pun susah bagi saya. Namun semangat saya untuk kuliah tidak berkurang.

Kuliah daring ini membuat tugas semakin banyak, terlebih lagi saat akan melaksanakan UTS atau Ujian Tengah Semester yang mengharuskan mengumpulkan tugas sebagai syarat ikut UTS. Ada juga mata kuliah yang tugasnya tulis tangan yang membuat saya dan teman-teman harus menulis begitu banyak.

Kabar tidak menyenangkan kami dapatkan karena dosen mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam, kondisinya semakin memburuk sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Sudah beberapa pertemuan kami tidak saling berkomunikasi. Sehingga pada akhirnya kabar tidak menyenangkan kembali kami dapatkan, kabar duka datang dari dosen tersebut yang terlebih dahulu dipanggil oleh Sang Maha Pencipta. Kami semua sangat sedih dan turut berduka cita, semoga almarhum ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.

Mata kuliah yang lebih sulit dijalani saat daring ini adalah mata kuliah pengembangan materi dasar PAI karena mata kuliah ini sangat penting untuk kami sebelum menjadi guru. dari mata kuliah ini saya banyak belajar dan banyak juga tugasnya. Pada saat UTS pun mata kuliah ini lah yang cukup lumayan sulit bagi saya.

Pada saat semua mata kuliah sudah selesai UTS terkecuali mata kuliah sejarah pendidikan Islam yang diampu oleh almarhum. Mata kuliah ini sempat berhenti di tengah jalan karena belum ada dosen pengganti pada saat itu. Saat semua mata kuliah sudah selesai UTS, aku dan teman sekelas yang lainnya diberi tugas lagi yang kurang lebih sama seperti sebelumnya, hanya materi yang berbeda. Kembali lagi ke aktivitas seperti sebelumnya hingga menghadapi Ujian Akhir Semester.

Beberapa hari kemudian baru lah kami dapat dosen pengganti yang memberikan tugas tambahan untuk nilai kami yang kosong. Dosen baru yang mengampu mata kuliah ini mengharuskan mahasiswa yang berada di Pontianak untuk kuliah tatap muka. Kami sangat senang bisa bertemu dengan teman-teman walaupun ada beberapa yang tidak datang ke kampus karena masih di kampung halaman mereka masing-masing.

Kami sudah akrab walaupun baru pertama kali bertemu, karena kami sudah lama kenal, hanya saja melalui via online. Percandaan pun banyak kami ucapkan agar suasana hari pertama kuliah tatap muka ini tidak terlalu membuat kami gugup. Minggu seterusnya pada mata kuliah ini pun masih sama dilakukan tatap muka di kampus dan bertemu dengan dosen. Pertemuan ke dua ini lumayan sudah ramai kami kumpul.

Mata kuliah lainnya masih daring tetapi ada satu lagi mata kuliah yang harus kami lakukan bersama, yaitu mata kuliah pengembangan materi PAI dasar yang tugasnya harus membuat praktek mengajar di depan kelas melalui video, kami lakukan bersama sama teman kami yang lumayan ramai. Kami sibuk mencari ruang kelas yang akan kami gunakan untuk praktek mengajar ini. Kami hampir tidak menemukan ruang kelas karena pada saat itu adalah hari libur di kampus. Akhirnya kami mencari di Sekolah Dasar di dekat kampus kami.

Lumayan gugup saat aku pertama kali praktek mengajar di depan kelas. Ternyata berdiri di depan kelas tidak semudah yang aku bayangkan. Padahal baru praktek saja sudah gugup seperti ini, dengan peserta didiknya adalah teman aku sendiri. Kami maju secara bergantian dan menjadi peserta didik juga secara bergantian. Lumayan lama kami membuat video karena satu orang berdurasi 15 menit. Karena lama, kami juga bergantian melaksanakan sholat karena pada saat itu sudah memasuki waktu zuhur. Ternyata kami belum selesai lagi hingga memasuki waktu ashar dan sampai mendekati waktu magrib.

Kembali lagi pada mata kuliah Sejarah pendidikan Islam. Kami ditugaskan untuk melaksanakan observasi atau study lapangan ke tempat-tempat bersejarah yang ada di Kalimantan Barat. Kami berdiskusi soal waktu dan tempat yang akan dikunjungi. Sambil menunggu waktu yang tepat, kami melaksanakan UAS dari mata kuliah lainnya, Ujian Akhir Semester ini cukup sulit.

Ada juga tugas yang aku kerjakan bersama temanku, temanku datang ke rumah untuk mengerjakan tugas bersama karena tugas ini terlalu sulit jika dikerjakan sendiri. Waktu terus berjalan sehingga hampir semua mata kuliah telah selesai melaksanakan UAS. Kami pun lumayan legah karena tidak ada beban lagi, bukan tidak ada beban tetapi berkurang beban tugas. Setelah selesai, kami kembali melaksanakan diskusi lagi mengenai observasi.

Kami melakukan rapat beberapa kali agar persiapan lebih matang karena kami akan melakukan perjalan keluar kota. Mulai dari persiapan alat transportasi, alat tulis, kebutuhan tidur, kebutuhan makan, semua kami persiapkan dan diskusikan dengan baik agar tidak merasa repot saat diperjalanan yang lumayan jauh.

Observasi ini mengharuskan kami satu kelas untuk ikut namun ada 2 orang teman kami yang berhalangan hadir karena alasan yang kurang aku ketahui. Kami berdiskusi soal transportasi yang akan digunakan, yaitu bus dengan muatan yang cukup untuk kami satu kelas. Tetapi uang yang kami kumpulkan hanya cukup untuk menggunakan bus yang tidak terlalu besar sehingga ada beberapa teman yang tidak duduk di kursi.

Kembali ke persiapan, persiapan yang kami siapkan sepertinya sudang matang dan sudah cukup. Ada yang dengan senang hati membawa peralatan-peralatan yang akan digunakan, misalnya ada yang membawa kompor, alat pemanggang, bahan masakan, baskom, arang, tikar dan lain-lain. Semua peralatan sudah disepakati dengan mengisi list yang sudah dibuat oleh penanggung jawab, jadi tidak ada paksaan bagi teman-teman yang akan membawa kebutuhan barang bersama.

Setelah semua list yang dibuat sudah terpenuhi, kami kembali mengadakan rapat lagi untuk berbelanja bahan-bahan makanan, yaitu pada H-2 sebelum keberangkatan kami. Rute yang akan kami jalani adalah yang pertama ke makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kota Pontianak yang sangat berpengaruh pada sejarah Pontianak, letaknya di Batu Layang. Selanjutnya kami ke  Istana Amantubillah di Mempawah dan terakhir rute perjalanan kami ke pantai samudra di Singkawang.

Saat aku pulang rapat, aku bersama temanku terjebak hujan deras, kami pun mencari tempat untuk berteduh sampai hujan reda kami pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya aku mulai bersiap-siap mempersiapkan barang yang akan dibawa. Setelah semua siap, aku kembali mengecek list barang-barang, takut ada yang ketinggalan.

Dan hari itu pun tiba. Kami datang ke titik kumpul yaitu di kampus. Jam 6 pagi semua sudah mulai berkumpul, bus yang akan membawa kami pun juga sudah tiba. Sebelum berangkat kami melakukan absen terlebih dahulu, dan menyimpan semua barang-barang ke dalam bus. Perjalanan dimulai dan sesuai dengan rute yang sudah disepakati.

Pertama kami ke makam kesultanan. Sekitar jam 8 pagi kami tiba disana, tepatnya di komplek makam kesultanan Batu Layang, Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara. Tujuan kami kesini adalah berziarah, menghormati leluhur dan mengetahui letak, bentuk dan suasana di komplek pemakaman ini. Area pemakaman atau komplek pemakaman yang telah menjadi cagar budaya ini, merupakan tempat dimakamkannya para raja-raja kesultanan Pontianak beserta keluarganya yang juga merupakan tokoh-tokoh besar Negara.

Pada area makam tersebut terdapat surau/aula di depan bangunan komplek pemakaman Batu Layang yang terletak di tepi sungai Kapuas, sehingga kita dapat khusyuk berdoa mendengar suara alam yang masih sangat alami. Di aula ini lah kami melakukan diskusi lagi yang ditemani oleh bapak dosen mata kuliah sejarah pendidikan Islam ini. Kami melihat komplek pemakaman yang masih terjaga kebersihan dan keasriannya, karena semua wajib melepas alas kaki bila hendak berziarah.

Kami pun masuk kedalam komplek makam tersebut. masing-masing dari kami melepas alas kaki dan kami disambut dengan sangat baik oleh penjaga atau juru kunci makam kesultanan, yang merupakan keluarga dari keseultanan Pontianak. Kami membacakan surah Yassin di makam tersebut. Makam-makam disini diselimuti dengan kain berwarna kuning terang yang sudah berusia ratusan tahun dan sudah banyak melakukan perbaikan.

Terdapat sebuah batu besar dan meriam kuning di makam Batu Layang selain untuk berziarah, makam Batu Layang ini menjadi objek wisata Kalbar. Untuk dapat menuju pemakaman ini, kami harus memasuki perkampungan sekitar 5 menit dari jalan raya.

Setelah kami melakukan ziarah, kami bersantai terlebih dahulu di warung depan area pemakaman yang langsung menghadap ke sungai. Kami bercerita, makan, minum dan istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Mempawah yang lumayan masih jauh. Setelah selesai, kami semua melanjutkan perjalanan, di dalam bus kami bernyanyi agar tidak bosan dan ada juga yang tidur karena mengantuk.

Kami semua sangat senang bisa berkumpul melakukan observasi sekalian jalan-jalan, aku menganggapnya liburan sambil belajar. Kami semua sangat menikmati perjalan ini hingga tiba lah kami di tempat ke dua yaitu Istana Amantubillah Mempawah, di Desa Pulau Pedalaman, Mempawah Timur. Pada saat itu juga bertepatan dengan azan zuhur, jadi kami sholat terlebih dahulu baru melakukan observasi ke dalam Istana Amantubillah.

Sebelum masuk, aku dan temanku terlebih dahulu izin kepada pihak istana agar mau di wawancarai untuk memenuhi tugas kami. Setelah berbincang dengan ibu yang berda di istana tersebut akhirnya kami mendapat izin untuk masuk dan mewawancarai beliau tentang Istana Amantubillah dan silsilah keluarga di istana tersebut.

Kami disambut dengan sangat baik, tujuan kami kesini adalah untuk mengetahui sejarah keraton atau istana Amantubillah, letak istana, masa pemerintahan dan arsitektur pada bangunan istana tersebut. istana ini berdiri pada tahun 1922 tepatnya pada tanggal 12 November. Nama Istana Amantubillah ini memiliki arti “aku beriman kepada Allah” yang asal mulanya berdiri setelah Opu Daeng Manambon mendirikan kerajaan di perguruan dan setelah menikah pindah ke sebukit.  Lalu panembahan Taufik Accamaddin mendirikan Istana Amantubillah pada masa pemerintahan Gusti Jamiril yang memiliki gelar panembahan Adi Wijaya Kesuma, Sultan ke-3 kesultanan Mempawah.

Pada area Istana ini, kami disambut pintu gerbang yang bertuliskan “Mempawah Harus Maju, Malu dengan Adat”. Begitu melewati gerbang, kita melihat halaman dengan rerumputan hijau dan meriam. Istana didominasi dengan warna hijau tosca. Istana terbagi menjadi 3 bagian, yang dulunya terdapat bangunan utama, sayap kanan, dan sayap kiri. Saat ini ketiga bangunan sudah berubah fungsi seperti bangunan utama yang sudah diubah menjadi museum kerajaan Mempawah yang menyimpan banyak sejarah. Bangunan ini juga menyimpan foto-foto raja yang pernah berkuasa di Istana beserta keluarganya.

Bangunan sayap kanan saat ini memiliki fungsi sebagai pendopo dan bangunan sayap kiri saat ini dijadikan tempat tinggal kerabat kerajaan Mempawah. Dalam kunjungan kami, kami sempat berbincang dengan kerabat kerajaan, Hj. Rugayah Ellysah, istri dari pangeran Faitsal Taufik, yang merupakan anak kedua dari panembahan Muhammad Taufik Accamaddin. Beliau sempat menceritakan mengenai panembahan Muhammad Taufik Accamaddin yang diculik oleh penjajah Belanda. “panembahan Muhammad Taufik Accamaddin ditawan oleh Belanda bersama raja-raja lainnya serta para pemimpin pemuka masyarakat. Lepas dari tawanan Belanda, panembahan Taufik Accamaddin diculik oleh penjajah Jepang. Bersama para tokoh masyarakat yang diculik, ia dibunuh. Beliau merupakan mertua saya, lokasi pembunuhan sekali gus tempat pemakaman terjadi di Mandor.” Ungkapnya.

Dalam perjalannya, Istana ini pernah mengalami kebesaran di tahun 1880 tepatnya saat tampuk kekuasaan di pegang oleh Gusti Ibrahim yang memiliki gelar panembahan Ibrahim Mohammad Syafiudin dan berkuasa di tahun 1864-1982. Saat ini istana dipimpin oleh pangeran Ratu Mulawangsa, sebagai raja ke-13 kerajaan Mempawah yang merupakan anak pertama dari panebahan Muhammad Taufik Accamaddin.

Setelah kekuasaan Jepang berakhir dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, kesultanan Mempawah menyatakan bergabung dengan NKRI dan menjadi daerah yang termasuk ke dalam wilayah administratif provinsi Kalimantan Barat. Dengan demikian, Kesultanan Mempawah sudah tidak memiliki kewenangan secara politik lagi untuk mengatur pemerintahannya, namun pihak kesultanan masih sering menghelat ritual atau upacara yang dilakukan secara adat, misalnya upacara robo-robo’, ritual naik tojang dan lain sebagainya.

Meskipun sudah tidak memiliki kewenangan secara politik lagi untuk mengatur pemerintahannya, Istana Amantubillah meninggalkan sejarah dan menjadi pusat kebudayaan. Keberadaan dan kegiatan keraton selayaknya diakui dan dijadikan panutan oleh masyarakat sehingga sanggup menjadi landasan bagi pembangunan dan ketahanan Nasional Bangsa.

Mengenai pengunjung Istana Amantubillah ini terbuka untuk umum dalam artian semua suku dan agama bisa masuk, asalkan sudah mendapat izin dari pengurus Istana Amantubillah. Pada awal pandemi, pengunjung Istana tidak diizinkan masuk karena demi memutuskan rantai penyebaran covid-19 pada saat itu.

Dari sejarah ini lah kami dapat mengetahui tentang Istana Amantubillah Mempawah. Setelah beberapa jam kami berada di Istana, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sebelum sore. Tetapi sebelum kami pamit kepada pihak Istana, kami melakukan dokumentasi terlebih dahulu di depan pintu masuk Istana.

Kami berjalan menuju bus dengan melewati jembatan layang yang terdapat di area komplek Istana. Dalam perjalanan kami sempat mampir di rumah makan terlebih dahulu sebelum sampai di pantai samudra Singkawang. Rumah makan ini terletak di tepi pantai dengan suasana yang sangat tenang dan nyaman untuk beristirahat sejenak.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan sambil makan cemilan dan bernyanyi agar tidak jenuh. Saat tiba di tempat tujuan yaitu pantai samudra Singkawang, kami meletakan barang-barang yang sudah kami bawa, kami juga sudah booking tempat untuk kami menghabiskan waktu semalaman dengan teman-teman. Tak lupa teman-teman juga melakukan sholat jama’ah. Kami melepas lelah dan ada juga yang langsung bermain di pantai.

Sambil menunggu waktu maghrib tiba, kami semua bermain di pantai dan berfoto-foto. Semua merasa senang karena bisa merasakan liburan sambil belajar. Saat azan berkumandang, kami berganti baju dan melakukan sholat jama’ah lagi. Setelah itu kami juga mempersiapkan masak nasi dan menghidupkan api untuk bakar-bakar sosis dan bakso yang akan kami jadikan lauk untuk makan malam.

Kebersamaan ini terasa sangat menyenangkan karena baru pertama kali aku liburan bersama teman-teman satu kelas. Kami tidak pernah bertemu sebelumnya satu kelas ini. Saat semua masakan siap untuk dimakan, kami makan bersama dilapangan terbuka di dekat pantai, yang ditemani angin malam yang menyejukkan, kebersamaan yang tidak terlupakan.

Malam semakin larut, banyak teman-teman yang sudah tidur tetapi aku tidak bisa tidur sama sekali karena di tempat terbuka. Jadi aku dan sebagian temanku memutuskan untuk berbincang-bincang saja hingga larut malam di tepi pantai yang ditemani dengan suara gemuruh ombak, angin dan kembang api yang dimainkan oleh orang-orang yang berada di pantai. Kami juga tidak lupa memesan kopi untuk menemani perbincangan kami terkait masalah kuliah yang kami hadapi.

Malam telah berlalu, azan shubuh berkumandang, teman-teman semua melakukan sholat berjama’ah lagi. Sambil menunggu matahari terbit, kami pergi ke tepi pantai untuk menikmati suasana pagi yang segar dan sangat alami. Setelah beberapa menit matahari terbit, kami menyiapkan sarapan pagi yang disiapkan oleh masing-masing karena kami juga bekal untuk makan masing-masing yaitu mie instan.

Setelah itu kami tidak ada kegiatan apa-apa lagi karena sebelumnya dosen kami tidak ikut, dosen hanya sampai pemakaman kesultanan Batu Layang saja, jadi kami tidak ada kegiatan lagi. Jadi kami hanya berbincang-bincang saja. Hari sudah hampir siang, kami memutuskan untuk mandi dan bermain lagi di pantai, kali ini lebih lama karena masih awal sebelum jadwal bus menjemput kami pulang.

Kebersamaan kami di pantai ini sangat menyenangkan karena setelah melaksanakan UAS kami harus bersantai dan ini lah waktu yang tepat untuk bersantai. Setelah lama bermain di pantai kami bersiap-siap untuk pulang karena sebentar lagi bus kami akan menjemput. Setelah semua sudah bersiap-siap. kami melakukan dokumentasi terlebih dahulu di tepi pantai agar ada kenang-kenangan untuk kami abadikan.

Bus pun sudah datang, kami akhirnya melakukan perjalan pulang, dengan rasa sedih harus meninggalkan kebersamaan ini, namun kami tetap ceria di dalam bus sambil memakan cemilan dan bernyanyi seperti sebelumnya. Kami juga mampir di Mempawah karena waktu ashar telah tiba dan perut juga mulai lapar. Kami makan di dekat terminal Mempawah.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan hingga matahari mulai terbenam kami baru sampai di Kampus tempat awal titik kumpul kami. Masing-masing teman sudah di jemput orang tuanya. Kami harus berpisah setelah menghabiskan waktu seharian penuh yang penuh dengan makna. Rasa sedih juga kami rasakan karena akan berpisah pulang ke kampung halaman masing-masing.

Harapanku untuk semester berikutnya yang pertama adalah dilakukan kuliah tatap muka, karena sudah ada wacana akan dilakukan kuliah tatap muka disemester baru, namun tidak terasa aku sudah memasuki semester baru, yaitu semester ganjil atau semester tiga yang ternyata masih tetap sama, hanya wacana, lagi-lagi aku harus melakukannya secara online. Harapan lain, agar biaya UKT bisa diringankan dan memberikan info yang jelas.

Aku juga berharap agar perkulihan ini lebih banyak menggunakan whatsApp group karena lebih hemat kuota internet, menggunakan media yang memadai lainnya juga untuk memberikan penjelasan materi yang cukup dimengerti mahasiswa. Dari segi penilaian atau assesment diharapkan dosen dapat berlaku adil dan menghargai usaha dari para mahasiswanya. Dari segi tugas dan koreksinya, diharapkan dosen dapat memberikan feedback agar mahasiswa dapat mengetahui lebih jelas terhadap tugas yang sudah dikerjakan.  

tingkat keefektifannya yang bisa dikatakan relatif, tergantung dari masing-masing komponen yang menunjang atau turut serta dalam proses pembelajaran daring ini sehingga diharapkan pembelajaran ini membawa hasil yang terbaik meskipun dalam keterbatasan yang ada. Mahasiswa diharapkan mandiri dan lebih aktif belajar bukan hanya mengandalkan materi yang telah diberikan saja tetapi juga dari sumber lain. Dosen dan pihak Fakultas/Universitas hendaknya menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini sehingga perkuliahan daring tetap dapat dilaksanakan dan tidak terlalu membebani. Diperlukan pula model pembelajaran yang atraktif, aktif, dan dapat diterima oleh semua tipe mahasiswa. Pemerintah juga mengusahakan yang terbaik untuk menunjang keberlangsungan pembelajaran di masa pandemi COVID-19 ini, seperti contohnya pemberian subsidi kuota bagi siswa, guru, mahasiswa, maupun dosen tiap bulannya. Dalam jangka panjang, pembelajaran daring dapat membatasi kegiatan lapangan atau praktikum yang mendukung mata kuliah sehingga diperlukan inovasi pembelajaran campuran learning saat kondisi sudah mulai membaik dan memungkinkan pelaksanaan protokol kesehatan di kampus.

 

Namun situasi sekarang sangat memberi beban pada mahasiswa dan membuat pengalaman perkuliahan menjadi sesuatu yang membosankan, bahkan bisa sampai pada titik kejenuhan dan berdampak pada tidak berkualitasnya pendidikan yang diperoleh. Mahasiswa terengah-engah mengikuti proses pembelajaran. Dalam sekejap tugas menumpuk. Mereka dituntut bertransformasi jadi pembelajar mandiri dalam waktu semalam.

Diharapkan semoga pembelajaran melalui online ini dapat lebih maksimal lagi, baik mahasiswa maupun dosen.

Menghadapi situasi seperti ini, aku sangat berharap jika mahasiswa semester 3 yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah tatap muka ini segera kuliah luring atau tatap muka. Mungkin sudah setahun ini aku sudah terbiasa dengan kuliah online, namun harapan untuk beradaptasi dengan hal baru sangat diinginkan, bukan soal kenyamanan atau tidak nyaman, namun sudah seharusnya kami mendapatkan fasilitas yang seharusnya didaptkan agar materi pun didapatkan dengan baik, tugas dikerjakan dengan baik, bukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Semoga pandemi ini pun segera berakhir, bukan hanya dunia perkuliahan, namun semua jenjang pendidikan juga mengalami kesulitan saat kuliah online, maka dari itu semoga pendidikan di Indonesia ini lebih baik lagi. Dan semoga semua juga bisa menerima kondisi seperti ini.

 

 

Komentar